DPR telah mengagendakan fit and proper test mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo (Foke) menjadi dubes RI untuk Jerman. Namun hal ini menuai penolakan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Jerman.

Melalui surat elektronik, Selasa (17/9/2013), Ketua PPI Jerman Hartono Sugih dan Sekjen Wonny Utami menyampaikan pandangan penolakan tersebut. Surat bernomor 011/VIII/PTN-PPIJ/201315/16092013 tersebut ditujukan kepada Presiden SBY, Menteri Luar Negeri Marty M. Natalegawa, Ketua DPR Marzuki Alie, dan Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq.

"PPI Pusat di Jerman dengan ini menilai bahwa Dr Ing Fauzi Bowo tidak memenuhi kriteria yang tepat dan layak untuk mengemban tugas sebagai Duta Besar Republik Indonesia," demikian bagian pembuka surat tersebut.



Sedangkan pertimbangan penolakan Foke menjadi dubes RI untuk Jerman adalah:

1. Sebagai salah satu tokoh nasional, Fauzi Bowo melakukan kampanye hitam dan kampanye terselubung terhadap salah satu pesaingnya dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012 dengan menggunakan isu-isu SARA. Apa yang telah dilakukan Fauzi Bowo jelas bertentangan dengan asas Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi pedoman dasar bangsa Indonesia. Bagaimana mungkin seseorang yang pernah tidak menjunjung tinggi nilai keberagaman, dipilih dan dicalonkan sebagai Duta Besar RI dan menjadi representasi dari Negara Kesatuan Republik Indonesia di kancah internasional? (Artikel 3 butir A / “Representing”: Fungsi Misi Diplomatik, Vienna Convention on Diplomatic Relations, 1961).

2. Fauzi Bowo dinilai telah gagal mengemban tugas dan tanggung jawabnya sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012. Selain itu Fauzi Bowo juga dinilai gagal memberikan perlindungan dan rasa aman bagi warganya sendiri. Berdasarkan penilaian ini, bagaimana mungkin yang bersangkutan bisa memberikan perlindungan dan rasa aman terhadap WNI di negara lain apabila dia sendiri telah gagal memberikan hal itu di negaranya sendiri? (Artikel 3 butir B / “Protecting”: Fungsi Misi Diplomatik, Vienna Convention on Diplomatic Relations, 1961)

3. Melalui program Jakarta-Berlin Sister City, Dr Ing Fauzi Bowo sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2007-2012, memiliki kesempatan besar untuk menggunakan pengetahuannya mengenai Jerman untuk dapat memaksimalkan hubungan tersebut dan berkontribusi dalam peningkatan pembangunan di DKI Jakarta. Namun selama program ini berlangsung, kami tidak melihat hasil signifikan yang dapat dimanfaatkan dari hubungan tersebut untuk kemajuan pembangunan di DKI Jakarta.

4. Jabatan Duta Besar sebagai perwakilan resmi negara Indonesia memainkan peranan yang penting dan strategis untuk meningkatkan hubungan kerjasama Indonesia dengan negara sahabat. Tugas yang penting dan strategis ini hendaknya diberikan kepada figur yang betul-betul kompeten dalam bidang diplomasi, serta memiliki dedikasi yang tinggi dalam melayani dan melindungi masyarakat. Kami lelah melihat posisi penting ini sering kali menjadi komoditas politik dari para pemangku kebijakan. Kami berpendapat bahwa bukan tugas seorang Presiden RI untuk mencarikan pekerjaan bagi seseorang yang telah kehilangan kepercayaan di kota yang pernah dipimpinnya.

"Atas dasar pertimbangan-pertimbangan ini, Perhimpunan Pelajar Indonesia di Jerman menuntut agar pihak-pihak yang telah kami sebutkan di atas mempertimbangkan kembali pencalonan Dr Ing Fauzi Bowo sebagai Duta Besar RI untuk Republik Federasi Jerman. Kami berharap pernyataan sikap ini dapat menjadi masukan dan bahan pertimbangan bagi para pengambil keputusan. Melalui surat pernyataan ini Perhimpunan Pelajar Indonesia di Jerman ingin mempertegas, bahwa sebagai bagian dari masyarakat yang menjunjung tinggi demokrasi, kami akan tetap aktif dalam menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap pengambil keputusan dan pengambil kebijakan di Negara Kesatuan Republik Indonesia," demikian bagian kesimpulan surat tersebut.


sumber: detikcom